Selasa, 20 Desember 2016

Manajemen Laba Sektor Perbankan

Tugas Softskill Etika Bisnis

Nama            : Fitria Rindhiani
Npm              : 13213550
Kelas             : 4EA25


Manajemen laba adalah penyerahan wewenang dari prinsipal kepada agen dalam pengelolaan dan pemngambilan kebijakan perusahaan dapat memperbesar peluang terjadinya pendahuluan kepentingan yang dilakukan oleh manajer . hal ini dikarenakan manajer memiliki tanggung jawab moral untuk melaporkan perkembangan perusahaan yang positif kepada pemilik perusahaan yang digambarkan melalui laporan keuangan . berbagai cara dapat dilakukan oleh manajer untuk membberikan indikasi yang positiff melalui laporan keuangan. Tindakan ini dikenal dengan manajemen laba (earning management).
Fakftor faktor  pendorong manajemen laba
1.      Bonus Plan Hypothesis
2.      Debt Covenant Hypothesis
3.      Political Cost Hypothesis
Manajemen laba sendiri muncul karena adanya konflik kepentingan antara pemilik perusahaan dengan manajemen, tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh manajer dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor permintaan untuk pendanaan eksternal, insider, trading, hutang, bonus atau struktur perusahaan.
Kepercayaan  adalah  dasar  dalam  membangun  bisnis  yang  berkelanjutan.  Bila perusahaan    mendapat    kepercayaan    dari    para stakeholder,    perusahaan    akan memperoleh  kesempatan  tidak  terbatas  untuk  tumbuh  dan  berkembang  serta  meraih kesuksesan.  Bisnis adalah hubungan saling ketergantungan antara perusahaan dengan stakeholder.  Untuk  itu  penting  untuk  membangun  kepercayaan  di antara  dua  pihak tersebut.  Membangun  kepercayaan  dapat  dilakukan  dengan  menegakkan  integritas perusahaan sebaik mungkin (Djajendra, 2010).  Integritas  laporan  keuangan  selalu  menjadi  isu  penting  bagi  pemerintah  dan para  pengguna  laporan  keuangan  lainnya  (Shah  dkk,  2009).  Laporan  keuangan  yang disususun  berdasarkan  Standar  Akuntansi  keuangan  (SAK)  adalah  sumber  informasi yang  digunakan  untuk  menilai  posisi  keuangan  dan  kinerja  perusahaan  yang  terdiri dari  neraca,  laporan  laba  rugi,  laporan  perubahan  ekuitas  dan  laporan  arus  kas. Menurut kerangka konseptual Financial Accounting Standards Board (FASB), tujuan laporan   keuangan   adalah   untuk   memberikan   informasi yang   berguna   untuk kepentingan  bisnis.  Laporan  ini  digunakan  oleh  investor  dan  investor  potensial, kreditur, supplier,  karyawan,  bursa  efek,  dan  para  analis  keuangan  lainya  untuk memperoleh   informasi   penting   tentang   perusahaan   yang   berguna   dalam   proses pengambilan keputusan. Asimetri      informasi   antara   manajer   dan   para   pemegang   saham memberikan keleluasaan bagi manajemen untuk bebas menentukan metode akuntansi dan   estimasi   yang   digunakan   dalam   melaporkan   laba   perusahaan   sehingga memberikan  kesempatan  bagi  manajemen  untuk  melakukan  manajemen  laba    (Lev, 1989  dalam  Shah  dkk,  2009).  Hal  lain  yang  mungkin  digunakan  manajemen  untuk melakukan  manajemen laba adalah fleksibilitas dalam mengimplementasikan prinsip akuntansi  yang  berterima  umum  yang  menyebabkan  manajemen  dapat  memilih kebijakan  akuntansi  yang  akan  diterapkan  dari beberapa  pilihan  kebijakan  yang ada(Subramanyam, 1996). Pengelolaan   laba   dapat   bersifat   efisien,   artinya   pengelolaan   laba dilakukan   untuk   meningkatkan   keinformatifan   laba   dalam   mengkomunikasikan informasi,   namun   pengelolaan   laba   juga   dapat   bersifat   oportunis   yaitu   untuk memaksimalkan  kepentingan  manajemen  (Scott,  2002). Menurut  Sulistyanto  (2008) manajer  berperilaku  oportunis ketika  menghadapi intertempory  choice,  yaitu  kondisi
yang   memaksa   manajer   membuat   keputusan   tertentu   untuk   mengoptimalkan kesejahteraannya (moral  hazard).  Sebagai  contoh  ketika  manajer  menyiasati  pajak, ketika  mengajukan kredit atau pinjaman, dan saat ingin mengoptimalkan nilai saham yang  ditawarkan  di  pasar  modal  untuk  menarik  investor.  Karena  pengelolaan  laba yang oportunis bertujuan untuk memaksimalkan kepentingan manajemen, sering kali informasi  yang  dihasilkan  tidak  sesuai  dengan  keadaan  perusahaan  sehingga  sangat merugikan  bagi stakeholder.  Bila  informasi  tersebut  digunakan  untuk  pengambilan keputusan, akan menyebabkan pengambilan keputusan yang salah (Gideon, 2005)