Tugas Softskill Etika Bisnis
Nama : Fitria Rindhiani
Npm : 13213550
Kelas
: 4EA25
Manajemen laba adalah
penyerahan wewenang dari prinsipal kepada agen dalam pengelolaan dan
pemngambilan kebijakan perusahaan dapat memperbesar peluang terjadinya
pendahuluan kepentingan yang dilakukan oleh manajer . hal ini dikarenakan
manajer memiliki tanggung jawab moral untuk melaporkan perkembangan perusahaan
yang positif kepada pemilik perusahaan yang digambarkan melalui laporan
keuangan . berbagai cara dapat dilakukan oleh manajer untuk membberikan
indikasi yang positiff melalui laporan keuangan. Tindakan ini dikenal dengan
manajemen laba (earning management).
Fakftor faktor pendorong manajemen laba
1.
Bonus Plan Hypothesis
2.
Debt Covenant Hypothesis
3.
Political Cost Hypothesis
Manajemen laba sendiri
muncul karena adanya konflik kepentingan antara pemilik perusahaan dengan
manajemen, tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh manajer dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor permintaan untuk pendanaan eksternal, insider,
trading, hutang, bonus atau struktur perusahaan.
Kepercayaan adalah
dasar dalam membangun
bisnis yang berkelanjutan. Bila perusahaan mendapat
kepercayaan dari
para stakeholder,
perusahaan akan memperoleh kesempatan
tidak terbatas untuk
tumbuh dan berkembang
serta meraih kesuksesan. Bisnis adalah hubungan saling ketergantungan
antara perusahaan dengan stakeholder.
Untuk itu penting
untuk membangun kepercayaan
di antara dua pihak tersebut. Membangun
kepercayaan dapat dilakukan
dengan menegakkan integritas perusahaan sebaik mungkin
(Djajendra, 2010). Integritas laporan
keuangan selalu menjadi
isu penting bagi
pemerintah dan para pengguna
laporan keuangan lainnya
(Shah dkk, 2009).
Laporan keuangan yang disususun berdasarkan
Standar Akuntansi keuangan
(SAK) adalah sumber
informasi yang digunakan untuk
menilai posisi keuangan
dan kinerja perusahaan
yang terdiri dari neraca,
laporan laba rugi,
laporan perubahan ekuitas
dan laporan arus
kas. Menurut kerangka konseptual Financial Accounting Standards Board
(FASB), tujuan laporan keuangan adalah
untuk memberikan informasi yang berguna
untuk kepentingan bisnis. Laporan
ini digunakan oleh
investor dan investor
potensial, kreditur, supplier,
karyawan, bursa efek,
dan para analis keuangan
lainya untuk memperoleh informasi
penting tentang perusahaan
yang berguna dalam
proses pengambilan keputusan. Asimetri informasi antara
manajer dan para
pemegang saham memberikan
keleluasaan bagi manajemen untuk bebas menentukan metode akuntansi dan estimasi
yang digunakan dalam
melaporkan laba perusahaan
sehingga memberikan
kesempatan bagi manajemen
untuk melakukan manajemen
laba (Lev, 1989 dalam
Shah dkk, 2009).
Hal lain yang
mungkin digunakan manajemen
untuk melakukan manajemen laba
adalah fleksibilitas dalam mengimplementasikan prinsip akuntansi yang
berterima umum yang
menyebabkan manajemen dapat
memilih kebijakan akuntansi yang
akan diterapkan dari beberapa
pilihan kebijakan yang ada(Subramanyam, 1996). Pengelolaan laba
dapat bersifat efisien,
artinya pengelolaan laba dilakukan untuk
meningkatkan keinformatifan laba
dalam mengkomunikasikan informasi, namun
pengelolaan laba juga
dapat bersifat oportunis
yaitu untuk memaksimalkan kepentingan
manajemen (Scott, 2002). Menurut Sulistyanto
(2008) manajer berperilaku oportunis ketika menghadapi intertempory choice,
yaitu kondisi
yang memaksa
manajer membuat keputusan
tertentu untuk mengoptimalkan kesejahteraannya (moral hazard).
Sebagai contoh ketika
manajer menyiasati pajak, ketika
mengajukan kredit atau pinjaman, dan saat ingin mengoptimalkan nilai
saham yang ditawarkan di
pasar modal untuk
menarik investor. Karena
pengelolaan laba yang oportunis
bertujuan untuk memaksimalkan kepentingan manajemen, sering kali informasi yang
dihasilkan tidak sesuai
dengan keadaan perusahaan
sehingga sangat merugikan bagi stakeholder. Bila
informasi tersebut digunakan
untuk pengambilan keputusan, akan
menyebabkan pengambilan keputusan yang salah (Gideon, 2005)